Skip to content

Baduy the Walker – Mereka (memilih) Primitif

Ethnic runaway!
Saya bekerja di perusahaan yang sangat mengedepankan teknologi, perusahaan tidak akan bisa berjalan jika tidak ada internet. Termasuk saya pribadi saat ini (dan saya yakin banyak juga yang lain) masih sangat bergantung terhadap teknologi. Gak ngebayangin sih diajak temen untuk jalan – jalan ke suatu tempat yang penduduknya tidak terjangkau jangankan dengan teknologi, bahkan dengan aliran listrik pun tidak. Baduy, salah satu suku pedalaman yang masih tersisa di Indonesia dan sangat jauh dari jangkauan teknologi. Karena penasaran, saya mengiyakan ajakan teman saya sekalian pengen melihat langsung, emang iya masih ada daerah dan penduduk di pulau jawa yang memiliki kondisi seperti itu.
Pagi - pagi sekitar jam 7 bersiap naik kereta dari St Sudimara menuju tanah abang
Pagi – pagi sekitar jam 7 bersiap naik kereta dari St Sudimara menuju tanah abang
Sebelum jalan saya browsing dan tanya – tanya mengenai trip ke Baduy. Yang akan dilalui adalah, kereta Tanah Abang – Rangkas Bitung (1,5 jam) -> Angkutan Mini Bust Colt Rangkas Bitung – Ciboleger (1,5 jam) -> Hiking Ciboleger – Kanekes (4 jam). Lumayan wow juga buat saya yang tidak terbiasa dengan adventure ataupun naik gunung. Setelah persiapan seadanya yang penting syarat – syarat logistik yang harus dibawa sudah siap, saya baru sempat tidur hanya selama kurang lebih 3 jam karena malam nya masih ada kerjaaan T_T.
kereta tujuan rangkas bitung
Perjalanan diawali dengan KRL dari St. Sudimara menuju St. Tanah Abang, tempat meeting point denga pemandu dan peserta trip yang lain. Dan kurang lebih sekitar jam 8 kereta Rangkas Bitung pun siap diberangkatkan. Lumayan di kereta bisa tidur sebentar setelah jeprat jepret dikit. Sampai di Rangkas Bitung karena mengejar waktu kami segera naik mini bus untuk melanjutkan perjalanan. Uniknya di tengah perjalanan ada orang suku baduy luar yang menghentikan kendaraan kami untuk menumpang. Di situ saya baru tahu perbedaan suku baduy luar dan dalam. Yang menumpang tersebut adalah suku baduy luar, perbedaan yang bisa kita lihat adalah baju yang digunakan yaitu bawahan biru, boleh menggunakan alas kaki, dan lebih terbuka untuk hal – hal baru, berbeda dengan suku badui dalam yang hanya boleh menggunakan pakaian hitam / putih, tidah boleh ada alas kaki dan lebih terbatas terhadap hal – hal baru. Semakin terbayang di pikiran saya betapa primitif nya suku baduy dalam. Yang baduy luar saya sebegitu ketertinggalannya, apalagi yang dalam.
naik minibus yang super extreme nih
naik minibus yang super extreme nih
Ada ibu baduy luar numpang minibus kami
Ada ibu baduy luar numpang minibus kami
Setelah kurang lebih 1,5 jam, kami sampai di desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang menuju perkampungan badui. Di situ kami menemui banyak sekali penduduk badui baik dalam maupun luar yang ternyata kalau Weekend “turun gunung”. Selain untuk berbelanja kebutuhan pokok, banyak dari mereka yang menjadi Porter untuk para wisatawan yang akan mengunjungi perkampungan badui. Dan setelah istirahat dan makan siang, kami pun bersiap untuk memulai perjalanan hiking menuju perkampungan badui dalam. Kami direkomendasikan untuk menggunakan porter dari Badui Dalam supaya ikut membantu penduduk lokal. Akhirnya demi ikut membantu penduduk lokal, saya pun ikut menggunakan porter dari Badui Dalam (padahal sebenarnya lebih karena males bawa barang sendiri sih, hehe).
Orang baduy dalam banyak yang turun gunung kalau hari libur
Orang baduy dalam banyak yang turun gunung kalau hari libur
Awal perjalanan cukup berat kami lalui dikarenakan hujan, yang selain menyebabkan jalanan menjadi licin, kondisipun jadi kurang nyaman karena keringat yang bercampur dengan air hujan. Sepanjang perjalanan selain dihadapkan dengan medan yang cukup berat, kami juga cukup khawatir dengan hewan – hewan yang cukup sering kami jumpai seperti Kalajengking, Kaki seribu, ular dan hewan – hewan lainnya, sehingga mengharuskan kami untuk fokus memperhatikan jalanan.
perjalanan melalui batu batu tajam
perjalanan melalui batu batu tajam
harus saling bantu membantu
harus saling bantu membantu
serem ini kalau lagi hujan deres
serem ini kalau lagi hujan deres
bertani aren
salah satu lumbung padi penduduk baduy
salah satu lumbung padi penduduk baduy
check point pertama nih
check point pertama nih
melewati jembatan bambu
melewati jembatan bambu
dapet salam dari hewan -hewan yang kami temui sepanjang jalan
dapet salam dari hewan -hewan yang kami temui sepanjang jalan
Kami juga melewati beberapa pemukiman penduduk Baduy Luar. Terlihat perbedaannya dengan jenis pakaian yang mereka pergunakan, jika Baduy dalam menggunakan warna hitam dan putih saja, penduduk baduy luar lebih terbuka dengan boleh menggunakan pakaian yang berwarana. Setelah sampai di kurang lebih 1 jam dari perkampungan baduy dalam, kami diminta untuk mematikan seluruh peralatan elektronik yang memang terlarang untuk daerah Baduy Dalam. Dan setelah total kurang lebih sekitar 5 jam, kami sampai di perkampungan Baduy Dalam. Sebenarnya total ada 3 perkampungan Baduy dalam, yang kami kunjungi hanyalah salah satunya. Dalam satu perkampungan kurang lebih ada sekitar 90an rumah yang lokasinya saling berdekatan. Dalam 1 kampung Baduy dalam dipimpin oleh yang disebut dengan “Jaro”, juga ada satu pemimpin lagi yang konon stratanya lebih tinggi yaitu “Pu’un”. Sayangnya dalam masa sekarang – sekarang keduanya sudah sulit untuk ditemui.
penduduk baduy yang kami temui sepanjang perjalanan
penduduk baduy yang kami temui sepanjang perjalanan
para porter dari baduy dalam
para porter dari baduy dalam
Setelah bersih – bersih, di sungai tanpa menggunakan sabun (yang memang dilarang) kami pun bersantap malam bersama tuan rumah tempat kami menginap. Tidak ada lampu, tidak ada bunyi – bunyian hiburan elektronik dan lainnya. Suara hanya datang dari obrolan kami dan suara alam. Saat itulah saya bertanya panjang lebar, mengenai rasa penasaran saya tentang hidup primitif yang mereka jalani. Kemudian tuan rumah (namanya Sapri) mulai bercerita tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari – hari. Yang unik adalah ternyata hampir seluruh suku Baduy Dalam yang sudah dewasa tahu dan pernah mengunjungi daerah – daerah yang ada di jakarta. Meskipun dengan berjalan kaki (karena penduduk badui dilarang menggunakan kendaraan bermotor) mereka sudah sering mengunjungi Bundaran HI, Ancol. Monas, bahkan beberapa Mall yang ada di jakarta. Kemudian mereka juga sudah sering mendapatkan tawaran dari pemerintah untuk memperbaiki akses jalan, memberikan akses listrik dan membangun infrastruktur di daerah sana. Namun penduduk baduy dalam menolak, dengan pertimbangan yang sama dengan kenapa mereka tidak mau menggunakan sabun atau bahan kimia lainnya, mereka berpikir bahwa itu semua akan merusak alam. Kepedulian terhadap alam merupakan hal yang sangat mereka jaga sampai saat ini.
rahasia kekuatan jalan jauh suku baduy dalam
rahasia kekuatan jalan jauh suku baduy dalam
Sapri, salah satu pemuda penduduk baduy dalam
Sapri, salah satu pemuda penduduk baduy dalam
anak baduy dalam sudah terbiasa beerjalan jauh dari kecil
anak baduy dalam sudah terbiasa beerjalan jauh dari kecil
Jadi yang awalnya saya berpikir mereka masih primitif dikarenakan ketidaktahuan ternyata salah. Mereka tahu (meskipun tidak mempelajari) tentang perkembangan teknologi, namun mereka lebih memilih untuk tetap hidup sederhana dan dekat dengan alam. Yang bagi sebagian orang termasuk saya berpikir bahwa hal tersebut ada lah gaya hidup yang primitif. Bukannya tidak bisa atau tidak mampu, tapi mereka memilih untuk tidak mau. Hal tersebut yang membuat saya kagum, mereka bisa bertahan menjaga adat, pendirian dan tetap menjalani hidup seperti yang sudah. Ini seperti kebalikan dengan sebagian besar orang di jaman sekarang yang sangat tertarik untuk mencoba hal – hal baru, sangat tertarik untuk mempelajari kemajuan dan sangat tertarik dengan sudut pandang baru yang sangat banyak bermunculan. Hal ini seperti menciptakan keseimbangan. Meskipun saya yakin, cepat atau lambat, suku baduy dalam juga akan beradaptasi dengan teknologi, namun pencapaian dan pendirian yang masih bertahan sampai saat ini merupakan suatu hal yang harus kita apresiasi.
­čÖé
Tambahan foto – foto┬ánarsis
para penjelajah
para penjelajah
nampang dikit boleh kalik
nampang dikit boleh kalik

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *