Skip to content

[review] Antara Teori Relativitas, Avengers dan Suicide Squad

[SPOILER DIKIT]
Saya penikmat segala jenis film, termasuk juga film genre superhero dari DC maupun Marvel. Tapi kalau boleh spesifik saya lebih cenderung memilih DC daripada Marvel, tapi ditulisan ini saya memilih untuk tetap objective terhadap penilaian saya tentang film Suicide Squad yang belum lama saya tonton.
Lalu apa hubungannya dengan teori relativitas seperti yang tertulis di judul? Teori relativitas yang saya maksud tidak mutlak teori relativitas dari Einstein :p Teori relativitas yang saya maksud disini lebih ke relatif nya perbandingan antara dua hal / benda, tergantung dari perspective mana hal / benda itu dilihat dan dengan apa hal / benda tersebut dibandingkan / disandingkan. Contoh bola basket itu termasuk bola yang besar, tapi akan jadi kecil kalau disandingkan dengan balon udara. Persija (menurut Jakmania) itu hebat kalau dibandingkan dengan PSIM atau Persikabo, tapi kalau dibandingkan sama Manchester United ya ngga ada apa – apanya. Tapi tetaplah pertandingan – pertandingan Persija tetap nikmat untuk diikuti oleh pendukungnya. Jadi intinya semuanya itu relatif tergantung perspektif dan perbandingannya.
gak pake lama, joker langsung matek di tangan superman
Biar ngga kelamaan muter-muter, terlepas dari cerita dan bungkusan movie nya yang keren, Joker (versi heath ledger) di film The Dark Night terlihat sangat keren luar biasa, dan semua orang mengakui kejeniusan dan kekejaman Joker. Tapi bayangkan jika tiba – tiba di film tersebut muncul Superman, dalam hitungan detik dengan super hearing nya Superman akan menemukan Joker dan dalam detik berikutnya membunuh Joker dengan sinar Xray dari mata nya. Tamatlah riwayat Joker yang begitu fenomenal dan sekarang menjadi terlihat cupu gara – gara Superman.
Untunglah The Dark Night tetap dengan cerita kekejaman dan kejeniusan Joker yang sangat sulit ditakhlukan dengan banyaknya kelemahan manusiawi Batman. Dan sampai sekarangpun Joker Heath Ledger tetap melegenda.
untung superman nggak ikutan The Dark Knight,
untung superman nggak ikutan The Dark Knight,
Itulah kenapa dari dulu saya tidak terlalu suka dengan gado – gado superhero seperti Avenger dan Justice League. Menurut saya, setiap karakter punya cerita masing – masing yang sangat menarik untuk dinikmati secara terpisah.
Kembali ke pembahasan sesuai judul, Suicide Squad. Saya melewati 2015 ke 2016 dengan banyak harapan tinggi terhadap film ini karena trailer film ini keren banget! footage – footage karakter anggota Suicide Squad yang keren – keren, cast masing-masing karakter juga yang nggak sembarangan, dan footage Joker ngomong “I’m not gonna kill you, I just wanna hurt you really – really bad….” uwoooo langsung goosebumps! Setelah itu muncul juga trailer kedua dengan back sound lagu Bohemian Rhapsody – Queen, cut to cut footage yang keren abis makin ngebuat double goosebumps. Daripada Civil War dan BvS, saya lebih nungguin film ini. Awalnya saya mempunyai prinsip “manage expectation” terhadap film apapun, supaya tidak kecewa dibelakangnya. Tapi ngelihat trailer Suicide Squad yang kayak gini, boleh kali ah berharap lebih.
scene ini membuat saya berharap lebih
scene ini membuat saya berharap lebih
Dan tibalah Rabu malam kemarin saya ke XXI saat Film ini sudah tayang.
Jengg jenggg… langsung aja to the point tentang film ini setelah keluar dari studio : KECEWA…
Sampe bingung saya mulai dari mana karena sepertinya terlalu banyak hal yang mengecewakan. Oke mulai dari penilaian general, menurut saya film ini seperti “just another rush to Justice League Movie”. Untuk film sekelas ini, storyline nya terlalu simple, intinya perkenalan masing – masing karakter dan melakukan satu misi penyelamatan, udah beres, selesai. Konflik, twist, drama, humor atau apapun yang biasanya menjadi penguat sebuah film, semuanya terasa hambar. Too bad,  film ini berada di jajaran film superhero yang sekarang beredar jadi ya ngebandingin storyline dan storytellingnya sama film superhero yang lain. Banyak yang lebih jelek daripada ini, tapi udah pasti film ini nggak masuk kategori yang bagus dari dua hal tersebut.
Membahas mengenai Cast dan directornya sebenernya film ini nggak main main. David Ayer sebagai director, Margot Robbie, Will Smith, Jared Letto dan deretan nama besar lainnya ikut serta dalam film ini.
Margot Robbie, nggak usah diragukan lagi kamampuan acting nya, tapi untuk Harley Quinn hmmm….. OK my personal opinion untuk film ini, She is OK (so so lah..). Tadinya kepikir karakternya bakalan lebih centil, gila dan freaky. Tapi karena yang yang meranin si Margot malah jadi kesannya jadi “hot” (*cowok normal), wkwkkwkw. Nggak jelek sih buat bisnis, pasti abis ini action figure nya bakalan laku keras dan bakalan banyak yang cosplay karakter dia. But somehow untuk jadi karakter yang punya peranan cukup banyak di film ini biasa aja nilainya.
Laku banyak ni figure pasti
Laku banyak ni figure pasti
DeadShot! Sama seperti Margot Robbie, nggak usah ngeraguin Will Smith lah. Nggak ada masalah sama DeadShot versi Will Smith, karakternya bagus, diperankan juga dengan bagus, hanya karena storyline n storytelling yang biasa aja, jadi kesannya juga terlihat biasa aja. Kesannya hanya karena dia termasuk Top Billed Cast jadinya harus dimanfaatkan muncul di screen sebanyak mungkin (biar nggak rugi bos).
bakalan keren kalau dibikin film sendiri
bakalan keren kalau dibikin film sendiri
The Joker! Pressure on you, Jared Leto! Sebenarnya, tidak seharusnya membanding-bandingkan peran karakter yang telah dimainkan oleh banyak aktor ini. Seperti halnya Joker, dari Jack Nicholson sampai sekarang Jared Leto, semuanya mempunyai versi masing – masing, dan variable nya juga banyak yang menentukan bagus atau tidak nya peran tersebut ditampilkan. Namun terlepas dari itu, penampilan Joker dari Heath Ledger memang terlalu sempurna (meskipun berbeda sama sekali dengan karakter yang ditampilkan di komik), itulah yang membuat keinginan para penonton untuk terus membandingkan dengan Joker versi Jared Leto jadi semakin kuat  Ok saya tidak mau membandingkan, tapi yang jelas harapan saya tinggi banget sama Joker nya Jared Leto. Secara tampilan juga cukup menarik, kesan gangster psikopat sangat kuat ditampilkan di poster – poster dan footage – footage yang sudah keluar. Wahh jadi makin makin nggak sabar ni ngelihat Joker versi Jared Leto. Dan akhirnya jeng jenggg, sekali lagi karena storyline dan storytellingnya, Joker di sini terlihat hanya sebagai pelengkap, padahal kayaknya Joker bakalan jadi the main villain nya. Bener – bener cuman kayak anak orang kaya yang bandel dan agak sinting yang kerjaannya ngebajak sama ngebobol pintu (what de hel DC!!!!!) apalagi kalao mau dibandingin sama the main villain nya (The Enchantress) Joker nya cupu! Kalau emang story nya emang cuman mau dijadiin pelengkap doang, mending ditampilin seperti Batman. Di film ini batman cuman jadi pelengkap, tapi tetap menjaga karakter si Batman secara keseluruhan. Maafkan Joker, saya prihatin dengan cerita karaktermu di sini. Banyak juga yang bilang kalau scene yang di cut ngefek banyak banget ke penampilan Joker di film ini, Joker cuman muncul paling kalo ditotal sekitar 10-15 menit. Apalagi muncul video clip Purple Lamborgini ( https://www.youtube.com/watch?v=ZkqyIoYAXV8)  sorry to say Jared, kamu sudah berusaha keras, tapi Joker cupu di film ini.
it wasn't ur fault, jared...
it wasn’t ur fault, jared…
Karakter – karakter yang lain seperti El Diablo, Captain Boomerang, Katana, Croc, Enchantress, Rick, Katana, SlipKnot, yaa not bad lah.., secara penampilan mereka maksimal untuk karakternya masing – masing, tapi secara cerita ya cuman sekedar karakter tersebut harus ada aja.
Intinya setiap cast dan personal karakter di film ini sangat potensial untuk digali lebih dalam. Saya bilang semua karakter karena memang tidak ada masalah dengan cast nya. Menurut saya akan sangat menarik jika masing – masing karakter bisa berdiri sendiri secara kuat. Bayangin ngelihat Joker dan Harley Quinn dalam satu film terpisah sendiri, Cerita DeadShot bisa diangkat sendiri secara lebih dalam, dan bahkan El Diablo sebenarnya punya potensi yang sangat besar untuk digali lebih dalam. Saya mengerti keputusan untuk menjadikan satu berbagai macam cerita dan karakter menjadi satu itu merupakan impian setiap superhero-fans, dan dari sisi bisnis akan potensial untuk mendapatkan keuntungan yang sangat tinggi, karena hal tersebut akan mengumpulkan basis fan dari masing – masing karakter menjadi satu. Tapi, harus dengan bungkus cerita yang sangat kuat dan tidak saling merusak karakter masing – masing. Dalam hal ini Marvel sepertinya cukup berjaya. Mereka membangun masing – masing karakter menjadi film terpisah-pisah dengan cukup kuat untuk berdiri sendiri menjadi satu film seperti Iron Man, Thor, Guardian of Galaxy, Ant Man, etc. Dan ketika semua karakter diamprukin jadi satu, saya pun masih tetap enjoy menikmatinya karena bungkusan nya yang cukup lumayan seperti Avengers dan Civil War. Mungkin tangan dingin Disney lah yang bisa membuat semuanya jadi rapih dan terencana, meskipun saya sedikit nggak suka karena ada kesan untuk memaksakan kebanyakan karakter Marvel untuk bisa ditargetkan kesemua umur, jadinya yang tadinya bisa lebih “dark” sekarang jadi lebih “unyu” (yaahh, namanya juga bisnis). Sekarang jadi kesan yang terlihat adalah DC seperti kebakaran jenggot dan dengan berantakan mencoba mengejar “ketertinggalan” mereka. Dan yang kesel kita sebagai penikmat film dan superhero yang cuman bisa ngelihat nerima hasil kayak gini.
poor you
poor you
Balik lagi ke konsep awal tulisan ini. Setiap cerita punya kekuatan masing – masing yang relative kuat untuk dinikmati. Banyak cerita yang sangat bagus untuk dinikmati secara terpisah pisah, tanpa harus menyandingkan atau membandingkan dengan yang lain. Menurut saya Nasi Kucing itu nikmat, begitu juga dengan spaghetti. Tapi bayangkan jika ada dua orang yang membandingkan makan Nasi Kucing dan makan Spaghetti. Masing – masing mempunyai cita rasa sendiri – sendiri, yang meskipun sama – sama nikmat, belum tentu kalau dijadikan satu jadi tetep nikmat. Nikmatilah suatu hal dengan kondisi yang sesuai dengannya, tanpa harus memaksa membandingkan atau menyandingkan nya dengan yang lain.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *