Skip to content

Rindu Kalian… (Sedikit Cerita Tentang Perjalanan Pertemanan)

Once upon a time in a whatsapp group :

A : yuk ngumpul…

B : hayuklahh, atur tempat

C : ngikut lah kemana aja

D : harus jadi nih ya

E,F,G : kasih tau aja kapan n dimananya…

B : ok kapan enaknya

D : di mana aja yang penting jadi

C : …

dan terus saja begitu sampai lebaran monyet….

 

Percakapan diatas sangatlah tidak asing dan sering terjadi belakangan ini. Nggak cuman temen sekolah, kuliah, ex-tempat kerja, banyak yang mengalami hal ini. Rasa rindu itu ada, untuk kembali berkumpul bersama. Yaa mungkin beberapa ada yang memang beneran tidak mau. (left group, diem aja di grup, jarang aktif / respon). Positif thinking aja, bukan karena sombong, lupa temen lama, atau penilaian – penilaian negatif lainnya. Simply karena “life changes”. Tuntutan berubah, prioritas berubah, mengharuskan pula untuk lingkungan, waktu dan cara berpikir juga berubah. Kalau sudah kayak gitu, nggak bisa kita nuntut siapapun. Nggak bisa kita nyalahin siapapun. Setiap orang punya prioritas masing – masing dan kapanpun itu bisa berubah. So.. bersabarlah bagi yang jadi “panitia” kumpul – kumpul, jangan jadi makan hati ya kalo kesusahan ngumpulin temen.

 

“Cerita teman SMA…”

teman_0003_Group 2
gara – gara keasyikan hina – hinaan, sampe kelupaan foto bareng yang proper, padahal saya bawa kamera. ini foto bareng pake henpon cuman buat apdet ke grup, jadilah kayak bubur gambarnya. (ki-ka : arista+buntut, rini, siwir, aprin, tomo)

Saya termasuk masih beruntung karena punya beberapa circle yang masih rutin kumpul – kumpul, meskipun memang jumlahnya makin ke sini makin berkurang. Dari beberapa circle ada satu circle teman lama yang cukup menarik yaitu teman kelas SMA. Dan yang masih rutin ngumpul (itupun hanya di momen lebaran) ada sekitar 5 orang. Saya mempunyai prinsip bahwa pada saat lebaran, seberapa sibuk ataupun seberapa mepetnya libur dari kantor, saya akan tetap memaksa untuk pulang ke kampung halaman. Karena momen lebaran bersama orang tua merupakan momen yang tidak ingin saya lewatkan sampai kapankun. Dan kebetulan kami semua juga selalu pulang pada saat lebaran meskipun ada dari kami yang merantau sampai ke luar pulau. Sehingga sangat jaran saat lebaran kami melewatkan acara kumpul – kumpul.

Jadilah ditentukan tempat dan tanggal untuk kami ketemuan, yaitu di rumah saya karena lokasinya yang cukup strategis dan ada 2 diantara kami yang tinggal berdekatan. Kami juga menginformasikan acara kumpul – kumpul ini ke grup SMA kami, meskipun kami juga sudah tau palingan yang ngumpul juga cuman 5 orang ini.

Kami masing – masing mempunyai karakter yang unik, dan sangat berbeda tiap masing – masing, baik dari pola pikir, background pekerjaan, lingkungan pergaulan dan banyak hal berbeda yang lainnya. Selain saya, yang paling dekat tinggalnya dengan saya adalah Arista (tita), bisa dibilang dia lah yang paling sukses karena diantara kami hanya dia yang sudah punya 2 buntut (yang laen kapan nee!). Kemudian ada Rini, ibu guru yang tinggal di puncak gunung, kayaknya diantara kami dia yang paling jago naik motor karena hanya pengendara yang sudah punya skill yang berani main ke rumahnya, dan dia sudah terbiasa kalau keluar pasti lewat jalur tersebut. Kemudian ada Siwir (purbo), makhluk dari Semin yang tercipta dari sananya nggak bisa diem, ngomonggg mulu. Terakhir namanya Tomo, seorang pemuda bertampang tua yang sangat hobi kecelakaan sepeda motor. Di jakarta saja dia sudah mengalami 2 – 3 kali kecelakaan motor yang membuat kakinya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Untuk sampai ke rumah saya dia menempuh kurang lebih 25km, dengan kondisi kaki nya yang belum sembuh benar, salut bro.

Jalur ponjong - tambak romo, sebagian besar belum ada penerangan, sebelah jalan langsung jurang (nggak dalem2 amat sih tapi lumayan), dan sayang beberapa spot extreme yang tidak sempat tercapture (damn i need GoPro so bad!)
Jalur ponjong – tambak romo, sebagian besar belum ada penerangan, sebelah jalan langsung jurang (nggak dalem2 amat sih tapi lumayan), dan sayang beberapa spot extreme yang tidak sempat tercapture (damn i need GoPro so bad!)

Dikarenakan waktu ketemu yang dimulai sudah agak sore, tak terasa sudah jam 9 malam. Dan dikarenakan Rini yang rumahnya di puncak gunung dan jalurnya yang cukup ekstrim, (gelap, berkelok naik turun, bahkan ada yang sudut elevasi jalannya sekitar 45derajat sepanjang kurang lebih 100-200m – jalur Tambakromo – Ponjong) akhirnya kami para lelaki nganterin karena nggak tega membiarkan dia malem – malem pulang sendirian. Sebenernya agak males juga sih malem – malem jalur extreme hahaha, tapi demi persahabatan (lebih karena biar nggak dikatain tega sama cewek sih sebenernya) yaudah akhirnya kami tetap jalan. Dengan menggunakan motor kami pun konvoi, nyempetin untuk makan mie ayam dan ngefoto titik perbatasan dengan Jawa Tengah. Selain melalui Jogja kota, jika akan ke Jawa Tengah ada jalur yang melalui Tambakromo. Memang karena extrim nya jalur,

Mie Ayam Pak Sugimin, ada di Eromoko, perbatasan Jogja - Jawa Tengah
Mie Ayam Pak Sugimin, ada di Eromoko, perbatasan Jogja – Jawa Tengah
teman_0004_Group 1
Siwir, berpose di perbatasan
teman_0001_Group 4
Nikmatnya mi ayam, bersama teman

Meskipun singkat, pertemuan ini cukuplah untuk mengobati kangen (untuk saling menghina) diantara kami. Padahal jika ngumpul, waktu kami habis hanya untuk saling insulting satu sama lain, bercanda ala SMA dan membicarakan hal – hal yang nggak penting. Mungkin memang kami nggak seperti “genk” yang lain, selalu kumpul sedia setiap saat (kami ngumpul aja cuman setahun sekali), perlu tempat yang nyaman dan strategis seperti di cafe / pusat kota (beberapa dari kami bela – belain jalan puluhan kilo lewati jalur extreme, dan makan cukup mie ayam pinggir jalan), sekali ngumpul puluhan orang (kita ngumpul 5 orang aja ini udah bersyukur banget. Tapi saya bisa lihat selalu ada ketulusan dan kerinduan untuk ngumpul lagi di antara kami. Koe – koe emang manteb tenan…

 

Life change, people change. Hanya bisa berharap semoga kondisi ini akan tetap terjaga selama mungkin. Bukan tidak mungkin suatu saat saya sendiri yang berubah, dikarenakan kondisi, dikarenakan prioritas. Bukan tidak mungkin saya nanti juga akan menjadi seperti yang sekarang kita sebut “mereka” yang jarang aktif komunikasi, yang susah untuk diajakin ngumpul, yang selalu ada alasan untuk tidak bisa bertemu dan yang kita sebut sekarang “sudah berbeda”. Ketika saat itu datang, I just hope the best for you all dan berdoa, untuk kebaikan dan kesehatan kita semua…, sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun, saya akan tetap rindu kalian semua… 🙂

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *