Skip to content

Termakan trend Satè Pak Pong

Sate Pak Pong

Waktu perjalanan pulang ke rumah ibu kemarin saya dan istri mampir ke sate Pak Pong, saté yang sangat terkenal sehingga selalu ramai. Hingga kita harus menunggu selama 1,5 jam. Ya, 1,5 jam merupakan waktu yang harus kami siapkan dan hal tersebut disampaikan terlebih dahulu oleh pelayan nya kepada kami untuk memastikan apalah kami benar benar rela menunggu selama itu meski kondisi sudah lapar. Akhir nya kami sepakat menunggu untuk menjawab rasa penasaran kami.Untungnya kami selalu banyak bahan ngobrol selama menunggu sehingga 1,5 jam tidak terlalu berasa. Dan salah satu pembahasan kami adalah keheranan kami terhadap begitu banyak nya pengunjung lain yang juga rela menunggu selama itu. Kebanyakan (sepertinya) memang pendatang, sehingga kami berasumsi bahwa mereka tertarik karena banyak yang merekomendasikan dan juga me-review di Internet.Setelah kurang lebih 1 jam 20 menit makanan kami datang. Rasanya enak, tapi kami juga sepakat kalau tidak sebanding dengan lama nunggunya. Mungkin pendapat kami berbeda dengan beberapa teman kami yang sudah pernah mencoba dan menilai makanan tersebut sangatlah enak.

_DSC5570-01

_DSC5559-01

_DSC5557_1-01

Poin nya, saya masih penasaran, apakah para pengunjung cukup sabar dan rela menghabiskan waktu yang lumayan banyak benar benar demi makanan enak tersebut ataukah terpengaruh karena sesuatu hal yang menjadi hits? Jawabannya saya tidak tahu. Dalam hal ini saya termasuk kategori yang rela “berkorban” karena trend tempat makan tersebut ramai menjadi perbincangan. Sesuatu yang sebenarnya sangat saya hindari. Suka suatu barang karena sedang trend, ingin membeli pakaian model tertentu karena sedang hits, mau memodifikasi kendaraan karena trend nya sudah berubah.

Bukannya tidak pernah terjerumus ke hal hal seperti itu, karena kadang trend yang sedang dihadirkan memang beneran keren. Dan saya berkecimpung di dunia marketing jadi tahu (sedihnya) marketing sering membuat suatu “kebutuhan” yang sebenarnya tidak perlu :D. Membuat suatu hal yang sebenarnya biasa menjadi “terlihat” luar biasa. Semoga kita semua dihindarkan dari hal-hal semacam itu

Selain tentu isi dompet menjadi alasan utama ……

 

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *